Posted by: jalanisaja | July 16, 2008

Asbak

 

…karena kecil tak selalu berarti tidak besar

 

Dalam hidup, tak jarang kita tidak memberikan perhatian pada hal kecil. Karena sifat reniknya, kita sering melewatkan hal kecil. Kalaupun memberikan perhatian pada hal kecil, biasanya dilakukan dengan perhatian yang sama kecilnya. Hal kecil sering tidak terlihat ketika berdampingan dengan hal besar. Manusiawi memang. Ketika kehidupan kita dikunjungi begitu banyak hal dan peristiwa besar, hal kecil memang berpotensi untuk terlewat. Alih-alih hal kecil, ketika banyak hal besar datang, beberapa hal besar (dari begitu banyak hal besar) juga kadang terlewat.

 

Pertanyaannya adalah: apakah kecil memang “ditakdirkan” (uhhh..takdir, sebenarnya saya sangat ingin menghindari kosakata ini) untuk terlewat? Apakah hal kecil selalu “kalah” jika harus berhadapan dengan hal besar? Bagi yang mengimani kisah David dan Goliath, pasti tidak setuju dengan pertanyaan yang ke dua. David yang kecil pun bisa mengalahkan si besar Goliath. Tapi tunggu dulu, jangan-jangan perhatian besar kita pada David muncul karena kalahnya Goliath. Saya khawatir, kisah David menjadi besar karena ada unsur kekalahan si besar Goliath. Artinya, si kecil membutuhkan sesuatu yang besar untuk menjadi besar. Bisa jadi, tapi bisa juga tidak. Tapi sudahlah, terjawabnya pertanyaan ini juga tidak akan membantu. Toh, bukan ini yang sebenarnya ingin saya bahas.

 

Sebenarnya saya hanya ingin membahas asbak (loh kok? Jaka sembung bawa golok…). Ceritanya, beberapa waktu lalu saya makan bersama seseorang. Tentu saja bukan asbak yang saya makan, hehe. Saat selesai makan, tanpa komando seseorang tersebut meminta asbak pada waitress. Padahal, saya tidak mengindikasikan akan merokok. Seingat saya, rokok saya pun masih belum keluar dari kantong. Betapa terharu saya atas peristiwa itu. Bahkan sangat mungkin ada yang akan membahasi pipi saya jika saja beberapa menit setelah itu tidak ada hal lain yang dibicarakan.

 

Saking terharunya, saya pun membagi cerita itu ke beberapa teman. Tapi alangkah kagetnya saya mendengar reaksi mereka. Mereka “kaget” dengan keterharuan saya yang berlebihan. Di mata mereka peristiwa itu biasa saja. Seseorang itu tahu kalau kamu perokok, dan tahu kalau bagi perokok, rokok setelah makan sama wajibnya dengan shalat 5 waktu sehari, that’s it. Demikian kurang lebih pikiran mereka. Memang sih mereka tidak menganggap peristiwa itu tidak bermakna. Kalau kesannya begitu mendalam buat saya, kata mereka, itu karena saya tidak terbiasa menerima perhatian semacam itu. (kasihan banget ya gw..) Mendengar penjelasan mereka, sebagian hati saya membenarkan hal itu. Tapi tetap tidak mengubah penilaian kalau soal asbak itu, has a huge meaning for me.

 

Soal asbak sebagai sebuah substansi, ternyata ia pun bernasib sama. Asbak sering dianggap kecil oleh orang, dan dilupakan betapa besar jasa sang asbak untuk kita. Dan itu tidak hanya terjadi pada asbak. Banyak hal-kecil-bermakna-besar lain yang sering kurang mendapat perhatian. Mendengar adalah salah satunya. Mendengar bisa dikatakan hal kecil, karena untuk mendengar, orang tidak harus repot. Berbeda dengan berbicara yang harus menggerakkan urat, ketika mendengar orang tidak perlu itu karena daun telinga dengan sendirinya sudah terbuka. Bahkan, mendengar bisa disambi dengan melakukan hal lain. Tapi, meskipun pasif, semua orang tahu betapa besar manfaat mendengar. Banyak permasalahan dan kesalahpahaman timbul karena kurangnya kemauan mendengar (dan tidak terpenuhinya kebutuhan untuk didengar).

 

Hal pasif lain yang juga bermakna besar adalah membuka diri. Tak banyak harus yang dilakukan untuk membuka diri: cukup membiarkannya tidak tertutup. Dan lihatlah berapa banyak hal besar yang masuk dalam diri kita yang terbuka. Angin yang masuk karena baju yang terbuka adalah pengecualian, hehe.

 

P.S.

Terimakasih untuk seseorang atas kemauannya untuk mendengar serta membuka diri, dan tentu saja terimakasih untuk asbaknya…

Advertisement

Responses

  1. akhirnya, kamu mengenal ini darimu…

  2. asbak apa kecil sih yg di omongin…binun…
    nah kalo bingung masuknya klasifikasi perhatian kecil apa besar..atau besar tidak berarti kecil atau kecil tidak berarti besar…
    nah lo bingung lagi…tp yang jelas bakar rokok ma cari asbak…rokok di isep…asbak makan sampah rokok..nah lo bingung lagikan..
    ya dah cuma mau nambahin binggung aja…

  3. ah elu dod.. sejak kapan Daud “kecil” dan Jalud “besar”..?
    Menurut gw David besar karena merasa “kecil” dihadapanNya.. dan Jalud kecil karena merasa “besar” daripadaNya..
    Nah lo.. dah bisa nemuin hubungan Daud ma Asbak..

  4. tulisan lepas ya?
    bagus,bagus. . .
    besar,tidak akan dianggap besar kecuali ada sesuatu yg kecil yg dijadikan pembanding.

    makaci suda add fb saya

  5. Lebbbeee

  6. gw selalu menghargai hal2 kecil.. yg gw tanamkan, hadiah yg besar berasal dari kemasan yg kecil .. :) .. masalah asbak itu sama kali ya klo pas lagi nunggu di pinggir jalan.. gerimis… tiba2 dari belakang ada yg mayungin.. semacam peristiwa khas filem2 gitu …. eaaaaaa….. :D yg pasti yg kecil2 gitu justru bisa pas memenuhi lubang2 di hati dibanding hal2 yg besar terkadang cuma bikin sesak …. ^^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.