Posted by: jalanisaja | May 27, 2008

Surat untuk Presiden

Pada satu waktu:

Kau bilang tidak akan menaikkan harga BBM

 

Hanya beberapa hari berselang:

Kau bilang kenaikan harga BBM tidak bisa dihindari

Ini hanya soal waktu dan berapa besar kenaikan itu, katamu

Dan aku tak marah padamu soal itu

 

Aku bisa memahami  mengapa Kau (Kau? Emang pemerintah hanya Kau?, hehe) rela dicibir dan digugat kewibaannya dengan mengeluarkan dua statement yang bertolak belakang hanya dalam beberapa hari. Mungkin Kau termasuk Keynesian dengan mengamini premis: orang yang tidak bijaksana adalah orang yang tetap pada pendirian dan tidak berubah sikap ketika situasi berubah. Atau mungkin, Kau hanya menjadikan quote John Maynard Keynes itu sebagai sarana berlindung yang indah? Entahlah, yang jelas, Kau berada dalam dilema, yang tentu saja tidak mudah bagimu. Bahkan mungkin bagi siapa saja yang berada dalam posisimu.

 

Aku bisa memahami harga minyak dunia berada pada level yang tinggi, dan Kau tidak mungkin terus mempertahankan subsidi karena menyebabkan defisit anggaran yang berlebihan. Tapi tiadakah pos lain untuk menutup defisit anggaran? Penetapan pajak progresif untuk industri, misalnya. Tapi mungkin Kau khawatir itu akan menyebabkan Indonesia di-labeli negara dengan high-cost economy yang menyeramkan para investor. Dan berapa masalah lagi yang akan muncul ketika investasi tidak bergerak meninggi dan hanya menyandarkan pendapatan nasional pada konsumsi? Ini memang tak mudah, selain sebenarnya ini bukan perkara teknikal bagaimana menutup defisit anggaran.

 

Aku bisa memahami Kau pun menyiapkan langkah lanjutan dengan menggodok program dengan mekanisme “semacam Bantuan Langsung Tunai (BLT)” dan proyek padat karya. Tapi siapa yang dapat menyangkal ketidakefektifan BLT tahun 2005? Kau pun mencari formulasi yang tepat, dan itu tidak mudah.

 

Aku bisa memahami Kau perlu memberikan kepastian dengan segera mengumumkan kenaikan harga BBM. Menunggu dalam ketidakpastian membuat para spekulan bergerak dan terjadi lonjakan harga di pasar. Uncertainty cost atau kenaikan cost yang nyata, keduanya bukan pilihan mudah.

 

Aku bisa memahami bahwa dengan menaikkan harga BBM yang tentu saja bukan kebijakan populis, Kau pun siap kehilangan pamor, hanya satu tahun menjelang Pemilu 2009. Tapi bukankah Kau dulu memenangkan Pemilu 2004 dengan proses yang instant—percekcokan dengan Mega + Taufik Kiemas hanya membutuhkan beberapa bulan…

 

Aku bisa memahami, tapi aku tidak tahu apakah nanti gajiku masih cukup untuk membeli premium? Kenaikan gaji juga bukan sesuatu yang arif ketika bosku juga terkena dampak langsung yang lebih besar atas kenaikan harga BBM itu.

 

Aku bisa memahami, tapi apakah setiap malam aku masih bisa menyantap nasi goreng Pak Sasma’i? Multiplier effect kenaikan harga BBM pada akhirnya juga menghinggapi komponen nasi goreng yang dijual Pak Sasma’i. Ujungnya aku harus merogoh kocek lebih dalam untuk setiap nasi goreng yang aku makan. Jika pun harga nasi goreng tetap, bukankah itu hanya memindahkan kepusingan dari aku ke Pak Sasma’i.

 

Aku bisa memahami, urusanmu bukan hanya aku dan Pak Sasma’i. Tidak mungkin Kau mengurusi dan membahagiakan semua pihak, satu per satu. Tapi bukankah kami berdua juga rakyat Indonesia yang saat ini Kau pimpin. Dan bukankah kesejahteraan rakyat merupakan indikator keberhasilan ekonomi yang lebih riil ketimbang indikator makro: tingkat inflasi, pertumbuhan ekonomi, dkk?

 

 

Tuan Presiden…

aku bisa memahami, urusanmu bukan hanya aku..

tapi bisakah Kau pahami, urusanku pun bukan hanya memahamimu..

aku bisa memahamimu, tapi siapa yang memahamiku?

Advertisement

Responses

  1. saya tdk mjd bagian dari kelompok “pokoknya” (pokoknya bbm jgn naik), tidak pula bagian dari kelompok “sudahlah” (sudahlah, kita amini saja sby).

    cobalah untuk bergeser, tidak hanya berkutat pada kenyataan bhw sby salah krn mnaikkan harga bbm. kesalahan sby cuma satu. dia terlalu pagi berjanji.

    smoga saja ini menyadarkan kita smua (trutama bekas2 cagub bloon itu) betapa berjanji itu tidak mudah. krn janji mengandaikan tanggung jawab memenuhinya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.