Posted by: jalanisaja | October 29, 2009

berani kalah

seperti kepingan logam, ketidakpastian memiliki dua sisi: menyenangkan sekaligus menyesakkan. sifat misterius yang terkandung di dalam ketidakpastian itu mendebarkan. debar menjadi menyenangkan karena penuh kejutan, kita tidak pernah tahu warna apa yang akan muncul, dan ini berarti kita terhindar dari kemeluluan warna. namun debar juga bisa menjelma menjadi perasaan penuh gelisah yang menyesakkan karena tidak tahu pasti apa yang akan terjadi, apa konsekuensinya, dan oleh karenanya tidak tahu pasti akan berbuat apa

bergelut dengan ketidakpastian tak ubahnya perjudian: mungkin kalah-mungkin menang

dalam perjudian, sang pemenang pasti seorang petaruh: orang yang berani kalah. musuh utama keberanian bukanlah ketakutan, tetapi ketidakberanian. ketika bergelut dengan ketidakpastian, agar terhindar dari kekalahan, seseorang harus berani kalah.  karena ketidakpastian memiliki sekian banyak kemungkinan, seseorang harus mengetahui kemungkinan terburuk yang akan terjadi, membayangkannya, dan memutuskan berani menjalaninya.

karena sesungguhnya antara ketidakpastian dan kepastian hanya ada tabir tipis: keberanian untuk menjalani, sepenuh hati, apa adanya.

Posted by: jalanisaja | February 25, 2009

memilih untuk diam

296377405_059be49a27

belum waktunya bicara

Posted by: jalanisaja | July 16, 2008

Asbak

 

…karena kecil tak selalu berarti tidak besar

 

Dalam hidup, tak jarang kita tidak memberikan perhatian pada hal kecil. Karena sifat reniknya, kita sering melewatkan hal kecil. Kalaupun memberikan perhatian pada hal kecil, biasanya dilakukan dengan perhatian yang sama kecilnya. Hal kecil sering tidak terlihat ketika berdampingan dengan hal besar. Manusiawi memang. Ketika kehidupan kita dikunjungi begitu banyak hal dan peristiwa besar, hal kecil memang berpotensi untuk terlewat. Alih-alih hal kecil, ketika banyak hal besar datang, beberapa hal besar (dari begitu banyak hal besar) juga kadang terlewat.

 

Pertanyaannya adalah: apakah kecil memang “ditakdirkan” (uhhh..takdir, sebenarnya saya sangat ingin menghindari kosakata ini) untuk terlewat? Apakah hal kecil selalu “kalah” jika harus berhadapan dengan hal besar? Bagi yang mengimani kisah David dan Goliath, pasti tidak setuju dengan pertanyaan yang ke dua. David yang kecil pun bisa mengalahkan si besar Goliath. Tapi tunggu dulu, jangan-jangan perhatian besar kita pada David muncul karena kalahnya Goliath. Saya khawatir, kisah David menjadi besar karena ada unsur kekalahan si besar Goliath. Artinya, si kecil membutuhkan sesuatu yang besar untuk menjadi besar. Bisa jadi, tapi bisa juga tidak. Tapi sudahlah, terjawabnya pertanyaan ini juga tidak akan membantu. Toh, bukan ini yang sebenarnya ingin saya bahas.

 

Sebenarnya saya hanya ingin membahas asbak (loh kok? Jaka sembung bawa golok…). Ceritanya, beberapa waktu lalu saya makan bersama seseorang. Tentu saja bukan asbak yang saya makan, hehe. Saat selesai makan, tanpa komando seseorang tersebut meminta asbak pada waitress. Padahal, saya tidak mengindikasikan akan merokok. Seingat saya, rokok saya pun masih belum keluar dari kantong. Betapa terharu saya atas peristiwa itu. Bahkan sangat mungkin ada yang akan membahasi pipi saya jika saja beberapa menit setelah itu tidak ada hal lain yang dibicarakan.

 

Saking terharunya, saya pun membagi cerita itu ke beberapa teman. Tapi alangkah kagetnya saya mendengar reaksi mereka. Mereka “kaget” dengan keterharuan saya yang berlebihan. Di mata mereka peristiwa itu biasa saja. Seseorang itu tahu kalau kamu perokok, dan tahu kalau bagi perokok, rokok setelah makan sama wajibnya dengan shalat 5 waktu sehari, that’s it. Demikian kurang lebih pikiran mereka. Memang sih mereka tidak menganggap peristiwa itu tidak bermakna. Kalau kesannya begitu mendalam buat saya, kata mereka, itu karena saya tidak terbiasa menerima perhatian semacam itu. (kasihan banget ya gw..) Mendengar penjelasan mereka, sebagian hati saya membenarkan hal itu. Tapi tetap tidak mengubah penilaian kalau soal asbak itu, has a huge meaning for me.

 

Soal asbak sebagai sebuah substansi, ternyata ia pun bernasib sama. Asbak sering dianggap kecil oleh orang, dan dilupakan betapa besar jasa sang asbak untuk kita. Dan itu tidak hanya terjadi pada asbak. Banyak hal-kecil-bermakna-besar lain yang sering kurang mendapat perhatian. Mendengar adalah salah satunya. Mendengar bisa dikatakan hal kecil, karena untuk mendengar, orang tidak harus repot. Berbeda dengan berbicara yang harus menggerakkan urat, ketika mendengar orang tidak perlu itu karena daun telinga dengan sendirinya sudah terbuka. Bahkan, mendengar bisa disambi dengan melakukan hal lain. Tapi, meskipun pasif, semua orang tahu betapa besar manfaat mendengar. Banyak permasalahan dan kesalahpahaman timbul karena kurangnya kemauan mendengar (dan tidak terpenuhinya kebutuhan untuk didengar).

 

Hal pasif lain yang juga bermakna besar adalah membuka diri. Tak banyak harus yang dilakukan untuk membuka diri: cukup membiarkannya tidak tertutup. Dan lihatlah berapa banyak hal besar yang masuk dalam diri kita yang terbuka. Angin yang masuk karena baju yang terbuka adalah pengecualian, hehe.

 

P.S.

Terimakasih untuk seseorang atas kemauannya untuk mendengar serta membuka diri, dan tentu saja terimakasih untuk asbaknya…

Posted by: jalanisaja | July 4, 2008

cape’ mode is on

berhenti sejenak

berhenti sejenak

sedang berada (kembali) pada fase lelah. lelah adalah keniscayaan. ia datang menyapa secara berkala. namun kendati bukan yang pertama, pengalaman tetap saja tak membuatku lebih siap menghadapinya.

aku tahu (atau hanya menduga sekaligus berharap?) bahwa jalan masih panjang. saat ini aku berkeyakinan bahwa berhenti sejenak adalah pilihan yang paling mungkin. dan aku punya pembenaran yang “wah” atas pilihan ini: aku tidak sedang bersembunyi, aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali.

ada saran?
Posted by: jalanisaja | June 9, 2008

intellectual cul-de-sac

manakah yang seharusnya dibubarkan: Ahmadiyah atau FPI dan MUI?

sebelum manggungdi depan stage

warna pelangi kehidupan tak terlihat sempurna sebelum mengecap indah terkhianati dan kehilangan

Posted by: jalanisaja | May 27, 2008

Surat untuk Presiden

Pada satu waktu:

Kau bilang tidak akan menaikkan harga BBM

 

Hanya beberapa hari berselang:

Kau bilang kenaikan harga BBM tidak bisa dihindari

Ini hanya soal waktu dan berapa besar kenaikan itu, katamu

Dan aku tak marah padamu soal itu

 

Aku bisa memahami  mengapa Kau (Kau? Emang pemerintah hanya Kau?, hehe) rela dicibir dan digugat kewibaannya dengan mengeluarkan dua statement yang bertolak belakang hanya dalam beberapa hari. Mungkin Kau termasuk Keynesian dengan mengamini premis: orang yang tidak bijaksana adalah orang yang tetap pada pendirian dan tidak berubah sikap ketika situasi berubah. Atau mungkin, Kau hanya menjadikan quote John Maynard Keynes itu sebagai sarana berlindung yang indah? Entahlah, yang jelas, Kau berada dalam dilema, yang tentu saja tidak mudah bagimu. Bahkan mungkin bagi siapa saja yang berada dalam posisimu.

 

Aku bisa memahami harga minyak dunia berada pada level yang tinggi, dan Kau tidak mungkin terus mempertahankan subsidi karena menyebabkan defisit anggaran yang berlebihan. Tapi tiadakah pos lain untuk menutup defisit anggaran? Penetapan pajak progresif untuk industri, misalnya. Tapi mungkin Kau khawatir itu akan menyebabkan Indonesia di-labeli negara dengan high-cost economy yang menyeramkan para investor. Dan berapa masalah lagi yang akan muncul ketika investasi tidak bergerak meninggi dan hanya menyandarkan pendapatan nasional pada konsumsi? Ini memang tak mudah, selain sebenarnya ini bukan perkara teknikal bagaimana menutup defisit anggaran.

 

Aku bisa memahami Kau pun menyiapkan langkah lanjutan dengan menggodok program dengan mekanisme “semacam Bantuan Langsung Tunai (BLT)” dan proyek padat karya. Tapi siapa yang dapat menyangkal ketidakefektifan BLT tahun 2005? Kau pun mencari formulasi yang tepat, dan itu tidak mudah.

 

Aku bisa memahami Kau perlu memberikan kepastian dengan segera mengumumkan kenaikan harga BBM. Menunggu dalam ketidakpastian membuat para spekulan bergerak dan terjadi lonjakan harga di pasar. Uncertainty cost atau kenaikan cost yang nyata, keduanya bukan pilihan mudah.

 

Aku bisa memahami bahwa dengan menaikkan harga BBM yang tentu saja bukan kebijakan populis, Kau pun siap kehilangan pamor, hanya satu tahun menjelang Pemilu 2009. Tapi bukankah Kau dulu memenangkan Pemilu 2004 dengan proses yang instant—percekcokan dengan Mega + Taufik Kiemas hanya membutuhkan beberapa bulan…

 

Aku bisa memahami, tapi aku tidak tahu apakah nanti gajiku masih cukup untuk membeli premium? Kenaikan gaji juga bukan sesuatu yang arif ketika bosku juga terkena dampak langsung yang lebih besar atas kenaikan harga BBM itu.

 

Aku bisa memahami, tapi apakah setiap malam aku masih bisa menyantap nasi goreng Pak Sasma’i? Multiplier effect kenaikan harga BBM pada akhirnya juga menghinggapi komponen nasi goreng yang dijual Pak Sasma’i. Ujungnya aku harus merogoh kocek lebih dalam untuk setiap nasi goreng yang aku makan. Jika pun harga nasi goreng tetap, bukankah itu hanya memindahkan kepusingan dari aku ke Pak Sasma’i.

 

Aku bisa memahami, urusanmu bukan hanya aku dan Pak Sasma’i. Tidak mungkin Kau mengurusi dan membahagiakan semua pihak, satu per satu. Tapi bukankah kami berdua juga rakyat Indonesia yang saat ini Kau pimpin. Dan bukankah kesejahteraan rakyat merupakan indikator keberhasilan ekonomi yang lebih riil ketimbang indikator makro: tingkat inflasi, pertumbuhan ekonomi, dkk?

 

 

Tuan Presiden…

aku bisa memahami, urusanmu bukan hanya aku..

tapi bisakah Kau pahami, urusanku pun bukan hanya memahamimu..

aku bisa memahamimu, tapi siapa yang memahamiku?

Posted by: jalanisaja | May 27, 2008

pada sebuah pantai

kita memang bersandar pada apa yang mungkin

kekal, mungkin pula tak kekal

kita memang bersandar pada mungkin

kita bersandar pada angin

 

dan tak pernah bertanya, untuk apa?

tidak semua, memang, bisa ditanya untuk apa

 

(Pada Sebuah Pantai: Interlude karya Goenawan Muhammad, 1976)

Posted by: jalanisaja | May 9, 2008

terlambat mengerti

pada suatu ketika, pernahkah anda berbicara dalam hati: ooo..ternyata… ?

dengan sedikit sok tahu (tentu saja dengan resiko generalisasi yang terkandung di dalamnya), saya jawab kalau semua orang pasti pernah berada dalam keadaan itu. kondisi itulah yang saya sebut sebagai terlambat mengerti. atau mungkin lebih tepatnya, “terlambat” mengerti.

saya merasa perlu menyematkan tanda petik dalam kata terlambat, mengingat munculnya terlambat (tanpa tanda petik) mengindikasikan pemikiran: alangkah lebih baiknya kita mengetahui sesuatu sebelumnya. dan menurut saya, pemaknaan itu kurang pas.  karena menurut saya memang “seharusnya” terlambat.  kita membutuhkan terlambat, salah satunya, untuk mengetahui betapa berharganya yang telah berlalu.

tapi jika anda lantas berpikir bahwa sebaiknya kita lebih bisa menghargai sesuatu sebelum terlambat dan berlalu, menurut saya itu tidak akan membuat lebih pas. karena dengan begitu, kita akan berganti tidak bisa menghargai keterlambatan.

ini bukan anjuran untuk terlambat, karena saya khawatir anda bisa dipecat boss anda jika sering begitu (boss hanya akan mentolerir satu jenis keterlambatan: terlambat pulang, haha). untuk segala sesuatu, ada masanya. ada masanya kita tepat pada waktunya, ada waktunya lebih awal, dan tentu saja ada waktu untuk terlambat.

dan jangan pernah berpikir: mengapa harus begini, seandainya saya tidak terlambat.. karena, jika memang masanya, terlambat merupakan sebuah keharusan.

 

Posted by: jalanisaja | April 4, 2008

mari bicara cinta

~seumpama cinta, aku tetap tak peduli ~

beberapa hari terakhir, sebagian teman mengeluh… via email dan chat mereka mengajukan keberatan… keberatan soal bahasa blog ini yang keberatan… meskipun sebenarnya aku ingin menggugat keluhan mereka—benarkah ini berat?–, aku mencoba mengamokodir permintaan itu bentuk tulisan ini… 

awalnya aku pusing: benarkah ini berat? jika memang benar ini berat, lalu seperti apa yang enteng itu? lalu dengan ini aku berspekulasi: aku berasumsi bahwa pembahasan soal cinta adalah sesuatu yang enteng dan bisa dilakukan semua orang. betul kan? adakah yang lebih enak untuk dibicarakan selain cinta, dan pengkhianatan… 

kata orang, cinta itu universal. menurutku siy ga juga. cinta “hanya kebetulan” mampu menjadi bahasa pemersatu. cinta sendiri sebenernya memiliki wajah yang sangat banyak. cinta yang dialami orang pun berbeda-beda, dari yang bahagia berdua selama-lamanya hingga kasus pembunuhan atas nama cinta, persamaannya adalah mereka sama-sama menyebut yg mereka rasakan itu dengan bahasa yang sama: cinta. sekali lagi, dalam kasus ini cinta menjadi bahasa pemersatu (gimana klo buat kongres pemuda jilid III untuk mengamandemen butir ke tiga sumpah pemuda: kami putra-putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa cinta…) 

kembali soal cinta. berandai-andai ada surat di Quran yang bernama cinta, mungkin dua ayat pertama berbunyi: Cinta. Tahukah kamu apakah cinta itu? entahlah, banyak yang mendefinisikan cinta (dengan definisi yang berbeda-beda juga), banyak juga yang menolak mendefinisikan. kata mereka yang menolak itu, cinta tidak butuh definisi karena jika semua hal harus didefinisikan, lantas apa definisi dari definisi? 

apapun cinta itu, yang jelas cinta adalah sesuatu yang bisa dirasakan dan  (meskipun acapkali menyakitkan namun tetap) dinanti-nanti. jadi, mari bercinta. maksudku, mari bicara cinta… 

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.